Smartrulepro Extended

Where there's Will, There's a Way (Turbocharged By Jeff Choong)

田心洁之名言-放手的故事

Source :- October 7th, 2007 by jsjs418

放手真是这么困难吗?

不晓得大家有否听过‘放手的故事’

据说,有一个人很不小心的,踏空掉下了一个深不 见底的山崖。很幸运的,他在混乱中抓住了一些山崖边的攀藤,就这样暂时保住了性命。他好不容易才喘过气来,冷静的,看看四周,一心要脱离着困境。但是在双 脚不仅踏不到地面,而且还要吊在半空的环境下,希望也非常的渺茫啊。但他还是继续想尽办法的努力往上爬,认为有恒心,什么事也可以解决的。渐渐的,他把自 己的手,脚,脸,都给擦伤了,但他还是无法爬上平原。渐渐的,他觉得自己无能为力了,他坚决地希望渐渐的变成渺茫了,他已经耗资了所有的体力,他,终于都 支持不住了。他决定了,选择放手。他把手松了,摊开手,闭上眼,泪,也流了—-他一心认为自己这样的决定必死无疑,但是,当他睁开眼睛的时候,他却被一棵 大树给撑住了,这时候他才后知后觉的,原来,他死守地抓着那攀藤那么辛苦,那么吃力往上爬,还弄得满身伤痕,一切都是白费的。。。

这故事到底意味着什么呢?试问大家有何想法与见解呢?田心洁之言,其实啊,这故事意味着我们无论在哪方面都不应该太过于执着。过于固执会让人变得无能为力;所以有时在适当的时候选择放手,也许一切都来得简单而容易—

Direct Translation:

Let go really so difficult?

I do not know whether you heard of 'let go of the story'

It is said that there is a very careful person, Ta fell a bottomless cliff. Luckily, he was caught in the confusion of some cliff climbing, and thus temporarily saved their lives. He managed to breath, calm, look around, bent out of the predicament. However, not only in the feet can not tread the ground, but also hanging in the air environment, we hope very bleak ah. Still, he tried every means to efforts to climb, that can have patience, nothing can be solved. Gradually, he put his hands, feet, face, gave bruised, but he still can not climb the plains. Gradually, he felt powerless, and he strongly hopes that gradually become slim, he has spent all the strength, he finally is unable to cope. He decided, let me go. He put his hand loose, spread hands, close your eyes, tears, and shed - his heart that such a decision his certain death, but when he opened his eyes, he has been a big tree to the shore , and this time he was hindsight, turned out that he hang on to grip it climbing so hard, so difficult climb, but also confused covered with wounds, all in vain. . .

The story in the end mean? What thoughts and ideas how can we do? Tian Xinjie words, in fact, ah, this story no matter what aspect means that we should not be too persistent. People are too stubborn will become powerless; so sometimes choose to let go at the right time, and perhaps more simple and easy to all -

Blog on...til next time!

Copyrighted Jeff Choong All right reserved
No parts of this quote can be reuse or reproduced without owner permission.


Things You'll Need:

  • Time and patience
  • A willingness to hear others' opinions
  • The ability to bite your tongue
  1. Step 1

    Let go of the need to be "right." In American culture, we seem to have developed an obsession for being right, knowing the truth, and having the most up-to-date and accurate information. Realize that no one, not even you, can have all the answers; everyone's "truth" is going to be only part of the truth. So what if someone else's theory is partially true? That shouldn't cause you to doubt your own belief system unless you would like to. The more you can have a "to each his own" attitude, the more relaxed you will feel while discussing different ideas.

  2. Step 2

    Realize that people's beliefs are shaped by genes, personality, disposition, life experiences, and historical context. Its possible that if you were born in a different time and place, or experienced different things in life, you would have a totally different belief system.

  3. Step 3

    Practice the art of listening carefully. You may need to bite your tongue if you feel the need to lash out with your opinions. Even if you disagree with someone's view, you can reflect back what they're saying to make them feel heard. "So you're saying that..." If something about their opinion or belief system really bothers you, you can respectfully phrase a question to address it, like, "I see where you're coming from, but I don't understand about..."

  4. Step 4

    Do some research. If you often find yourself saying, "Why would someone DO that?" or "I can't imagine doing that" or "People are so ignorant!" you may need look into other peoples' lives and way of thinking. As we all know by now, the internet is an excellent source of information. Having at least a base knowledge of different subjects will not only give you a chance to expand your perspective, it will give you more credibility when speaking to others. An atheist speaking to a Christian who has a thorough knowledge of the Bible is likely to be taken much more serious.

  5. Step 5

    Pick your battles carefully. Sometimes you will never understand someone else's point of view and they won't get yours. Taking a stand for your beliefs does not require you to argue with every person every time you talk about it


Blog on...til next time!

Copyrighted Jeff Choong All right reserved
No parts of this quote can be reuse or reproduced without owner permission.


Tolong Maafkan Aku, Kawan

Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka
memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka
hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil
diselamatkan oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis
di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.
Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “Kenapa
setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan
sekarang kamu menulis di batu?” Temannya sambil tersenyum
menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya
di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan
tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasaterjadi, kita harus
memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup
angin.”

Cerita di atas, bagaimanapun tentu saja lebih mudah dibaca dibanding
diterapkan. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah pertemanan ‘hanya’
karena sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut
kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sebuah sakit hati lebih
perkasa untuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan untuk menjaga.
Mungkin ini memang bagian dari sifat buruk diri kita.

Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus saya
lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati
yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti
hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu. Bukankah sudah
menjadi kewajaran sifat orang untuk membalas dendam? Maka sungguh
sangat bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia
menginginkan sakit yang sama seperti yang dia rasakan. Bisa jadi juga
sakit hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam
menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita
tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai
gurauan.

Blog on...til next time!

Copyrighted Jeff Choong All right reserved
No parts of this quote can be reuse or reproduced without owner permission.



Cepat Sabar

Entah karena menganggap saya sebagai orang yang kurang sabar, kurang optimis, atau kurang gigih, seorang kawan mengirimkan surat elektronik berisi cerita inspiratif yang tak jelas asal usulnya. Nama penulisnya pun tak tercantum. Dan karena tidak bersifat rahasia, tidak membahayakan orang, dan tidak mengandung fitnah, maka saya kutip dibawah ini.

Dalam sebuah kisah Tiongkok dikisahkan, ada seorang pemuda yang hendak belajar kungfu. Datanglah dia pada sebuah perguruan kungfu. Dia menghadap gurunya dan berkata, “Guru, ajarilah saya kungfu!” Sang guru menerima dia menjadi murid, namun keesokan harinya sang guru menugaskan dia menjadi seorang juru masak perguruan. Sambil menyerahkan sebuah cerobong kecil yang terbuat dari besi kasar beliau berkata, “Tugasmu menjadi juru masak dan setiap engkau meniup api dengan cerobong besi ini, tekan dan remas dengan kuat cerobong ini. Aku akan mengajarkan kungfu jika cerobong ini sudah halus dan bayanganku terlihat jelas.” Bertahun-tahun berlalu. Sang murid mulai tak sabar terus-terusan menjadi juru masak. Setiap tahun dia menanyakan kapan dia belajar kungfu, namun sang guru tetap mengatakan sampai cerobong besi itu halus. Sampai akhirnya dia menunjukkan cerobong besi yang sudah halus itu pada gurunya. Sang guru tersenyum dan berkata, “Sekaranglah saatnya. Aku akan mengajarkan kepadamu ilmu yang penting, tetapi carikan dulu aku bambu yang paling keras di hutan.” Maka berangkatlah sang murid ke hutan. Ia meremas setiap bambu yang ditemuinya di hutan itu. Herannya tak satu pun dari bambu-bambu itu yang didapatkannya cukup keras. Sampai sore hari pun dia tak menemukan bambu yang keras di hutan itu. Akhirnya sang murid itu pulang dengan tangan hampa. Dengan kelelahan dia berkata pada gurunya, “Guru, maafkan saya. Saya sudah mencari kemana-mana, tetapi ternyata tidak ada bambu yang keras di hutan. Besok saya akan pergi ke hutan lain untuk mencarinya.” Sang guru tersenyum sambil berkata, “Muridku, saat ini engkau telah menguasai dua hal. Yang pertama kesabaran dan yang kedua adalah jurus tangan peremuk tulang. Siapa pun lawanmu, engkau bisa meremukkan tulangnya dalam sekejap. Jadi, saat ini engkau sudah menjadi salah satu pesilat tangguh dan sukar dikalahkan. Namun, bukan cuma itu. Engkau juga telah melatih kesabaranmu yang akan membantumu untuk bisa mempelajari ribuan jurus-jurus lainnya.”

Pertanyaan dari kisah di atas, apakah benar dengan kesabaran kita bisa mencapai tujuan kita? Mari kita samakan persepsi kata sabar terlebih dahulu. Kesabaran dalam terminologi masyarakat kita banyak disalahartikan. Masyarakat kita banyak mengartikan sabar sebagai diam, tidak membalas, menerima ataupun pasrah. Pengertian ini sangat berlainan dengan arti dalam bahasa Arab. Sabar dalam bahasa Arab diartikan tetap berusaha, tetap berjuang dan tetap berharap. Sabar adalah kombinasi yang harmonis antara rasa syukur, optimisme dan gigih (persistensi). Rasa syukur dapat mengkonversi kondisi terburuk menjadi mempunyai hikmah dan kebaikan.

Optimisme adalah kemampuan kita menciptakan harapan. Dan persistensi adalah kesadaran diri untuk tetap bergerak, berusaha dan berjuang. Itulah makna sesungguhnya dari kata “sabar”. Saya berterima kasih kepada kawan yang mengirimkan cerita di atas dengan cara menuliskan artikel ini untuk dinikmati banyak orang. Sebab cerita sederhana di atas memang mengandung sejumlah pelajaran yang menarik bagi siapa saja yang bersedia belajar. Di tengah masyarakat yang sedang dihalau oleh ajaran-ajaran cepat lulus, cepat kerja, cepat naik jabatan, cepat untung, cepat kaya, cepat langsing, dan serba cepat lainnya, kata “sabar” seolah-olah menjadi kadaluarsa. Orang yang terkesan sabar menjadi aneh dan kurang gaul alias ketinggalan jaman.

Memang, kita hidup pada jaman yang bergegas. Informasi, data, dan berita disebar dengan kecepatan yang tak terbayangkan oleh orangtua kita dulu. Pesan pendek alias SMS bertaburan di angkasa untuk kemudian menyusup ke dalam puluhan juta telepon seluler dalam hitungan detik (di Indonesia jumlah ponsel yang aktif tak kurang dari 60-an juta, dan tiap hari lebih dari 80 juta pesan pendek hilir mudik menembus batas-batas geografis yang dulu menjadi kendala). Belum lagi sebaran informasi, data, dan berita yang dikirim lewat jaringan surat-surat elektronik. Semua perangkat teknologi komunikasi dan informasi itu mendukung laju pertumbuhan budaya instan, serba cepat dan bergegas. Sehingga orang-orang yang masih bersedia untuk “sabar” nampak seperti kawan-kawan dinosaurus.

Masalahnya, dalam satu soal yang amat penting kita ternyata tetap harus bersabar. Dalam soal yang vital ini teknologi tak mampu berbuat banyak. Dan “soal” yang yang penting tersebut adalah soal membentuk watak alias karakter manusia. Berada di wilayah kebudayaan, watak dan karakter—entah itu yang personal maupun komunal—acapkali kita temukan bersitegang dengan teknologi. Sebagaimana setiap kemajuan tarik menarik dengan apa yang disebut tradisi, demikianlah teknologi yang tak sabaran itu bertikai dengan proses pembangunan karakter yang mempersyaratkan kesabaran sebagai salah satu komponen wajibnya. Membentuk watak tak bisa secara instan. Membangun karakter tak mungkin dilakukan dalam sekejap mata. Sebab karakter itu merupakan kumpulan dari habitus, semacam insting perilaku yang sudah mendarah daging dan karenanya kenyal tak gampang patah. Apa yang perlahan dibentuk oleh guru kungfu dalam diri pemuda yang mau belajar kepadanya adalah mendahulukan yang utama (first thing first). Yang utama itu adalah watak, karakter, yaitu menjadi orang yang tekun bekerja, gigih berjuang, sabar menanti saatnya. Di atas watak yang demikian ini bisa dibangun kompetensi, keahlian, keterampilan sebagai pendekar peremuk tulang. Keduanya, baik watak maupun kompetensi yang menyertainya, berjalan selaras.

Ketekunan bekerja dan kesabaran berproses menjadi jalan menuju lahirnya kompetensi sebagai pendekar peremuk tulang. Sungguh luar biasa! Tiba-tiba saya menemukan nasihat kawan saya itu. Ia mungkin mengirimkan cerita tersebut agar saya mau belajar untuk menjadi orang yang “cepat sabar”, dan bukan orang yang cepat marah. Apakah benar demikian?

Blog on...til next time!

Copyrighted Jeff Choong All right reserved
No parts of this quote can be reuse or reproduced without owner permission.


Sahabat Sejati

“Seorang sahabat adalah seseorang yang mendekat ketika kawan lain menjauh.”
– Walter Winchell, kolumnis Amerika Serikat, 1897–1972

KISAH nyata ini terjadi di tahun 2005. Meidi dan Ina adalah sahabat kental. Mereka berdua dibesarkan di sebuah desa di Jawa Tengah. Ketika memasuki jenjang perguruan tinggi selepas SMA, mereka memilih untuk melanjutkan kuliahnya di Jakarta. Meidi dan Ina, seperti perangko dalam amplop. Mereka ada di hampir saat yang bersamaan. Sesekali mereka bertengkar, tapi lebih sering mereka bersatu, menggalang persahabatan di kala sedih dan suka.

Persahabatan mereka pun kemudian teruji. Saat menjelang ujian akhir
di kampus, untuk sebuah mata kuliah, Ina dihadapkan sebuah pilihan
sulit. Orang tuanya, yang petani mengalami gagal panen karena
bencana banjir. Pun demikian dengan Meidi sebenarnya, yang
orangtuanya hanyalah pengusaha kelas menengah industri kerajinan
tangan di desa di Jawa Tengah. Industri kerajinan terkena imbasnya
pula ketika harga BBM merangkak naik.

Nah, Ina kehabisan uang. Sedangkan untuk mengikuti ujian, dia
membutuhkan uang untuk melunasi cicilan uang semester yang tertunda.
Lirik sana, lirik sini, tak ada yang dapat membantu. Meidi agak
sedikit tenang. Walau kiriman dari orang tuanya juga tak kunjung
tiba, namun dia memiliki sedikit tabungan. Hingga suatu ketika, Ina
benar-benar kelimpungan, batas waktu pembayaran uang kuliah sudah
mepet, dia belum juga mendapatkan kiriman dari orang tuanya.
Pinjaman dari teman, tak juga bisa diharapkan. Alhasil? Dia hanya
termangu di depan jendela kosnya.

Tanpa diketahuinya, Meidi melengos pergi. Empat jam berlalu, dia
pulang dengan membawa segumpal harapan buat Ina. “Kayaknya
kekuranganmu bisa terpenuhi. Kamu bisa ikut ujian sama-sama.”
katanya. Eh, dari mana Meidi bisa mendapatkan uang itu? Tak ada
jawaban yang pasti. Kecuali Ina tak melihat laptop milik Meidi yang
biasa teronggok di sudut kamar kosnya.

“Sudahlah, pakai dulu uang itu,” ujar Meidi. Ina hampir saja
menitikkan air matanya. Tanpa perlu ada penjelasan lagi, dan ia tahu
persis Meidi telah menggadaikan laptopnya. Singkat cerita, Ina dan
Meidi lulus dari perguruan tinggi itu. Kini mereka pun tetap
bersahabat. Hubungan Ina dan Meidi, meski dibatasi hirarki
pekerjaan, mereka tetap merupakan sahabat yang kental.

Sebuah cerita persahabatan yang manis tentu saja. Cerita itu sering
terjadi tanpa kita sadari. Seorang teman, dengan sifat pengasih yang
luar biasa, merelakan sesuatu yang berharga untuk menolong kawannya,
tanpa sedikit pamrih apa pun, kecuali untuk menolong sahabatnya
lepas dari kesulitan. Persahabatan itu ternyata di luar segalanya.
Teman memang bisa berarti lebih dari segalanya. Tanpa terucap, kita
paham, itulah artinya seorang teman.

Ini contoh yang lebih dramatis. Artis Roy Harold Scherer, Jr atau
lebih dikenal sebagai Rock Hudson diketahui mengidap penyakit AIDS.
Oktober 1985, Hudson menghembuskan nafas terakhirnya.. Kawan dekat
Hudson, Elizabeth Taylor bersama aktor dan artis lainnya, antara
lain Stevie Wonder, Elton John, Dionne Warwick dan lainnya
mempelopori gerakan penggalangan dana untuk penelitian terhadap
penyakit tersebut. Para penyanyi ini kemudian mempopulerkan lagu
lama yang juga pernah dinyanyikan Rod Stewart, yang dikemas secara
baru. Lagu itu sangat sederhana, tetapi maknanya sangat
dalam, “that’s what friends are for”. Itulah gunanya sahabat.

Nah, dalam pergaulan sehari-hari, Anda tentu mempunyai banyak
sahabat atau teman. Rasanya Anda bisa lebih sering bergaul dengan
mereka ketimbang dengan saudara atau bahkan ayah dan ibu. Alhasil,
ketika suatu saat Anda pindah rumah, rasa kehilangan begitu
membekas. Ingat film Petualangan Sherina ketika dia harus berpisah
dengan teman-temannya karena sang ayah pindah kerja ke daerah
Pangalengan, Jawa Barat? Sebuah keniscayaan, pada suatu masa Anda
pasti mengalami hal yang sama.

Hal yang sama pun terjadi ketika Anda memulai karir baru, masuk
sekolah atau kuliah baru, Anda tentu akan mendapatkan teman baru.
Anda tentu saja dengan berat hati meninggalkan teman-teman lama Anda
yang sudah Anda kenal, bahkan bertahun-tahun lamanya. Teman adalah
segalanya.

Namun, dengan makin bertambahnya usia Anda, urusan pun makin
bertumpuk. Masalah keluarga, masalah pribadi, dan masalah lainnya
kerap kali menjauhkan Anda dengan teman-teman yang dulu begitu
rekat. Anda pun seolah lupa dengan semua persahabatan yang manis.

Bagaimanakah hal itu bisa dihindari? Tentu saja, hal pertama yang
harus dilakukan adalah berusahalah untuk tetap menjaga komunikasi
dan bertemulah secara rutin. Bisa sekali dalam seminggu. Sekali
dalam sebulan, dua bulan, atau bahkan setahun. Dengan demikian,
hubungan yang Anda bina akan terus berkembang dan memperkaya hidup
Anda.

Dengan komunikasi yang dilakukan secara berkala, persahabatan akan
terus terpupuk. Arti persahabatan ditunjukkan manakala kita berada
dalam keadaan sulit. Seorang yang akan datang kepada Anda, dikala
Anda mendapat kesulitan. Sebuah kutipan yang diyakini kebenarannya,
A friend is one who walks in when others walk out. Seorang sahabat
adalah seseorang yang mendekat ketika kawan lain menjauh.

Nah, sudahkah Anda menghubungi kembali teman-teman lama Anda? Bila
belum, mulailah segera untuk merekatkan kembali tali silaturahmi.
Siapa tahu, saat ini, dia, teman Anda yang begitu akrab di masa
lalu, tengah membutuhkan kehadiran dan bantuan Anda. Sedikit kata
sapa, menjadi pengobat rindu. Dan, ah, siapa tahu, membesarkan hatinya yang tengah berduka.

Blog on...til next time!

Copyrighted Jeff Choong All right reserved
No parts of this quote can be reuse or reproduced without owner permission.


"We often think that we have to make major changes. Let's try to make small changes first. If done strategically, small changes it will bring great impact. "

TAK ada yang berubah kecuali perubahan itu sendiri, begitu orang bijak bilang. Kalau orang bijak berkata, sulit untuk dibantah. Ada bukti yang bikin jantung tercetak. Ini beritanya: pada awal Februari lalu, maskapai penerbangan Japan Air Lines atau yang lebih dikenal dengan nama JAL mengumumkan kebahagiaannya. Mereka, sejak kuartal ketiga di tahun 2007, membukukan keuntungan hingga 13,1 miliar yen.

Bukan hanya jumlah keuntungan yang luar bisa besarnya itu yang bikin
banyak orang terkejut, namun berita tentang perusahaan ini membaik
pun sebenarnya sudah bisa bikin kepala orang bergeleng takjub. Ada
sebabnya tentu saja. Perusahaan penerbangan ini dalam beberapa tahun
terakhir, dikenal sebagai maskapai dari negara maju yang memiliki
lalu lintas penerbangan sibuk, lha kok malah merugi.

Ketika krisis harga minyak dunia terjadi, JAL selama dua tahun
terakhir, dari 2005 hingga 2006 mengalami kerugian sekitar 16,3
miliar yen atau setara dengan 152,6 juta US$. Kerugian utamanya
disebabkan armada yang dimiliki JAL, yaitu sebanyak 271 pesawat,
tergolong rakus menenggak bahan bakar. Nah, naiknya harga minyak
dunia yang semakin membubung ternyata tidak diimbangi dengan naiknya
pendapatan perusahaan. Mau tak mau membuat mereka limbung. Fenomena
yang dialami JAL, jelas saja mendapat sorotan tajam. Mengingat
sebagai negara maju dengan penerbangan yang sibuk, kok bisa-bisanya
merugi. Satoru Aoyama, analisis dari Fitch Ratings, seperti dikutip
The Wall Street Journal awal Februari 2007 lalu, menyebut JAL,
sebagai Zombie Company. Atau bahasa melayunya, hidup segan mati pun
tak mau.

Masih mau terpuruk? Pastilah ogah. Pihak manajemen pun buru-buru
melakukan aksi perbaikan. CEO JAL, Haruka Nishimatsu tak tinggal
diam. Nishimatsu melakukan perubahan besar-besaran di segala bidang.
Tahun 2007 di bulan Februari, Nishimatsu melakukan PHK terhadap
4.300 karyawannya. Tak hanya itu, Nishimatsu mengumumkan memangkas
gaji 40 top eksekutifnya hingga 60%. Tak terkecuali dirinya.
Pemotongan gaji para top eksekutifnya itu tak ayal dapat menghemat
hingga 9,6 miliar yen. Langkah lain pun dilakukan untuk eksternal
organisasi. Di bidang pelayanan misalnya, JAL meningkatkan
pelayanannya. Di antaranya, dengan memperkaya menu makanan dan
minuman. Jok kursi untuk penumpang pun dibuat mewah, yaitu
menggantinya dengan kulit hewan. Namun, untuk semua pelayanan yang
serba wah ini, penumpang tak harus merogoh kocek lebih dalam. Harga
tiket tetap tidak dinaikkan. Hasilnya pun cespleng. Ujung tahun
lalu, JAL pun mencatat keuntungan hingga 13 miliar yen.

Hikmah yang dapat dipetik dari kisah ini adalah perubahan. Ibarat
sebuah bayangan, dimana tiap kali kita melangkah, ia senantiasa
mengiringi langkah kita. Semua yang harus dilakukan sebenarnya tidak
saja saat guncang, tetapi juga dalam keadaaan yang menyenangkan. Ini
pengalaman lain yang bisa dijadikan contoh.

Kenal dengan nama Sir Alex Ferguson? Di tahun 2000, setahun setelah
mendapatkan treble alias tiga gelar juara sekaligus dalam satu
musim, klub Manchester United kembali berjaya di liga Inggris dengan
menjadi juara. Namun, tak lama setelah berjaya, Sir Alex Ferguson,
sang pelatih yang menukangi klub tersebut punya penilaian
tersendiri. Ferguson mencoba mematahkan mitos, “don’t change the
winning team”, atau jangan rombak tim juara. Ia justru merombak tim
yang ada. Ada pertimbangan yang kadang tidak selalu bisa dipahami
orang awam. Ferguson menganggap tim yang itu-itu saja dapat
memberikan rasa kebosanan. Selain itu, ada beberapa pemain yang
memang sudah lanjut usia. Ibarat mesin, barang yang sudah tua akan
mengganggu kerja mesin secara keseluruhan. Dengan berat hati,
Ferguson pun melepas beberapa pemainnya. Pemain yang benar-benar
bagus dipertahankan. Pemain yang dinilai kurang memuaskan dijual
atau dipinjamkan ke klub lain. Pemain baru didatangkan untuk mengisi
posisi yang kosong. Tim telah dirombak. Lantas apa hasilnya setelah
dirombak?

Banyak orang bilang Ferguson melakukan langkah keliru. Sebabnya,
musim-musim berikutnya mereka malah kedodoran. Tapi Ferguson tak mau
diam saja. Sambil berjalan, dia terus melakukan perubahan dengan
pola yang sama. Hasilnya memang tidak serta merta memberikan hasil
gemilang. Beberapa kali, klub ini kehilangan gelar selama tiga tahun
berturut-turut. Sampai akhirnya musim lalu, mereka kembali berjaya,
dengan personel atau formasi pemain yang benar-benar berubah.

Dua kisah di atas tampaknya menjadi relevan saat kita menghadapi
berbagai masalah di dalam kehidupan sehari-hari. Entah di lingkungan
kerja atau lingkungan di rumah. Ada beberapa hal yang mau tidak mau
membuat kinerja di dalamnya terganggu. Banyak faktor memang, tetapi
perubahan tetap harus dilakukan. Ambil yang baik, buang yang buruk.
Tidak semudah yang dikira. Organisasi di wilayah rukun tetangga
adalah hal yang pelik. Seorang warga yang tidak pernah mau ikut
kerja bakti di hari minggu kerap menimbulkan disharmoni di antara
warga. Lantas apa yang dapat dilakukan? Mengusirnya dari lingkungan
ia tinggal? Tentu tidak. Satu hal yang perlu dilakukan adalah
mengajaknya bicara dengan baik-baik dan dilakukan dengan gaya dari
hati ke hati.

Dengan cara seperti itu, semua persoalan akan mengemuka dan dengan
demikian akan menjadi mudah dalam mencari solusinya. Sebenarnya hal
itu pula yang dilakukan Haruka Nishimatsu dan Sir Alex Ferguson pada
saat mereka mulai melakukan perombakan dalam organisasinya. Tetapi
jangan lupa, dalam melakukan perubahan, sebelum Anda mendapatkan
yang terbaik, tentu saja Anda harus memberikan yang terbaik dahulu.

Blog on...til next time!

Copyrighted Jeff Choong All right reserved
No parts of this quote can be reuse or reproduced without owner permission.


Bersahabat Dengan Masalah

“If a problem doesn’t kill you, it will make you stronger.”

Seorang kawan mengeluh, “Pak, saya kok sering kena masalah ya? Padahal saya ini sudah rajin berdoa, selalu positive thinking, tidak pernah bikin susah orang lain, suka menolong orang lain, jujur dalam bekerja, dan nggak neko-neko. Kenapa ya Pak? Apa masalah saya? Saya sudah bosan kena masalah terus.” “Wah, selamat ya,” balas saya.

“Lho, bagaimana sih Pak Adi ini. Saya punya banyak masalah kok malah
diberi selamat. Senang ya Pak kalau lihat orang susah?” kawan saya
balik bertanya dan agak jengkel.

“Sabar…sabar… bukan begitu maksud saya. Jangan tersinggung
dong,” jawab saya cepat sambil berusaha menenangkan kawan saya ini.

Nah, pembaca, apa yang saya tulis di artikel ini merupakan hasil
obrolan saya dan kawan saya.

Masalah. Setiap orang pasti punya masalah. Setiap hari kita pasti
berhadapan dengan masalah. Kita berusan dengan masalah. Kita
mendapat masalah. Kita membuat masalah. Kita bahkan bisa jadi sumber
masalah. Masalah terbesar adalah kalau kita tidak tahu bahwa masalah
kita adalah kita merasa tidak punya masalah.

Pembaca, waktu Anda mengalami masalah, bagaimana reaksi Anda?

Apakah Anda marah? Jengkel? Sakit hati? Frustrasi? Takut?
Menyalahkan diri sendiri? Atau Anda cenderung untuk menyalahkan
orang lain?

Anda mungkin bertanya-tanya mengapa saya menggunakan
judul “Bersahabat Dengan Masalah”. Apa nggak salah, nih? Kita kok
diminta bersahabat dengan masalah?

Benar. “Masalah” sebenarnya adalah hal yang sangat positif. Mari
kita bahas terlebih dahulu makna di balik kata “masalah”. Masalah,
yang dalam bahasa Inggris adalah “problem”, ternyata mempunyai akar
kata yang maknanya sangat berbeda dengan yang kita pahami selama
ini.

Akar kata “problem” berasal dari bahasa Yunani, proballein, yang
bila ditelusuri lebih jauh mengandung makna yang sangat positif. Pro
berarti forward atau maju. Sedangkan ballein berarti to drive atau
to throw. Jadi, problem berarti bergerak maju. Problem berarti
kesempatan untuk maju dan berkembang.

Sewaktu pertama kali mengetahui bahwa akar kata problem, proballein,
artinya bergerak maju, saya sempat terhenyak dengan perasaan kaget
dan takjub. Sungguh luar biasa dan sungguh benar. Coba kita
renungkan bersama. Masalah sebenarnya adalah suatu simtom yang
menunjukkan adanya suatu penyebab atau akar masalah. Justru dengan
seringnya seseorang mendapat “masalah”, bila orang ini cukup bijak
dan jujur pada dirinya sendiri, ia akan berkembang dan bisa lebih
maju.

Lha, kok bisa begini?

Pernahkah Anda, atau mungkin orang yang Anda kenal, mendapat atau
mengalami masalah?

Jawabannya, “Sudah tentu pernah.”

Pertanyaan saya selanjutnya, “Apakah masalah yang dialami Anda mirip
dengan masalah sebelumnya?”

Jika kita mau bersikap jujur dan jeli dalam mengamati maka
seringkali masalah yang kita alami sifatnya “mengulang” masalah
sebelumnya. Ada kemiripan atau kesamaan. Bentuk masalahnya bisa
berbeda namun polanya sama.

Satu contoh. Ada seorang wanita yang putus dengan pacarnya. Ia
marah, kecewa, sakit hati, dendam, dan bersumpah akan mencari
pasangan yang jauh lebih baik. Namun kenyataannya? Ia mendapatkan
pacar baru yang mempunyai karakter yang serupa dengan mantan
pacarnya.

Ada lagi seorang pengusaha besar, kawan saya, berulang kali kena
tipu. Sekali kena tipu jumlahnya nggak main-main. Bukan puluhan juta
tapi ratusan juta. Dan ini terjadi berulang kali.

Seorang kawan yang lain seringkali ribut dengan istrinya hanya
karena hal-hal sepele. Misalnya hanya karena si istri memencet pasta
gigi tidak dari bawah, tetapi dari tengah, ia marah besar.
Sebaliknya si istri walaupun telah diberitahu suaminya tetap
mengulangi pola perilaku yang sama.

Masalah yang kita hadapi sebenarnya menunjukkan “level” kita. Siapa
diri kita sebanding dengan masalah yang kita hadapi. Bukankah ada
tertulis bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita dicobai melampaui
kekuatan kita untuk mengatasinya? Dan setiap masalah pasti ada jalan
keluarnya?

Masalah atau problem sebenarnya guru sejati yang seringkali kita
abaikan. Kebanyakan orang mengalami masalah yang serupa atau
berulang karena mereka tidak belajar dari masalah yang pernah mereka
alami.

Ibarat anak sekolah bila kita tidak naik kelas, karena nilai ujian
kita jelek, maka kita akan mengulang di level atau kelas yang sama.
Tidak mungkin guru akan menaikkan kita ke kelas berikutnya. Mengapa?
Lha, soal ujian di level ini saja kita nggak lulus apalagi kalau
diberi soal ujian level di atasnya.

Kita harus mengulang, tidak naik kelas, dengan harapan kita akan
belajar, meningkatkan diri, dan akhirnya mampu mengerjakan soal
ujian dengan benar. Dengan demikian kita “lulus” ke kelas
berikutnya.

Saat tidak naik kelas, bukannya belajar dari “masalah” ini, banyak
yang malah membuat masalah baru dengan menjadi marah, frustrasi, dan
menyalahkan guru atau sekolah. Anda pernah bertemu dengan orang
seperti ini?

“Ah, itu kan anak sekolah. Memang harusnya begitu,” ujar kawan saya.

Lho, kita ini kan juga anak sekolah. Kita sekolah di Sekolah
Kehidupan. Kehidupan adalah tempat kita belajar. Untuk maju kita
harus menjadi pembelajar seumur hidup atau life long learner.

Ada yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik.
Saya kurang setuju dengan pernyataan ini. Menurut saya pengalaman
adalah guru terbaik bila itu pengalaman orang lain. Jadi, kita
belajar dan mendapat pengetahuan dan kebijaksanaan dengan menelaah
dan mempelajari pengalaman orang lain dan kita terapkan untuk
kemajuan hidup kita. Lha, lebih baik mana, Anda kena tipu Rp 1
miliar atau Anda belajar dari pengalaman orang lain yang tertipu Rp
1 miliar dan Anda gunakan pengetahuan ini untuk melindungi diri Anda
agar tidak mengalami masalah yang sama?

Pengalaman adalah guru yang terbaik bila kita dapat memetik
pelajaran berharga dari apa yang kita alami. Kebanyakan orang
mengalami “pengalaman” hanya sekadar mengalami. Mereka tidak memetik
pelajaran atau manfaat apa pun dari pengalaman (baca: masalah)
mereka.

OK. Sekarang sudah jelas bahwa kita bisa belajar dari masalah. Tapi
bagaimana caranya?

Ada empat langkah mujarab untuk mengatasi setiap masalah dalam hidup:
1. Mengakui adanya masalah
2. Setiap masalah pasti ada sumber atau akar masalahnya
3. Bila akar masalah ditemukan maka masalah dapat dipecahkan
4. Jalan keluar untuk menyelesaikan masalah

Contoh konkritnya?

Mari kita analisis kasus yang dialami kawan saya. Itu lho, yang bolak-balik kena tipu ratusan juta rupiah.

Langkah pertama adalah mengakui atau menerima bahwa ia punya
masalah. Ia harus berani mengakui dan memutuskan untuk mengubah hal
ini. Masalahnya adalah ia berkali-kali kena tipu. Banyak orang yang
bila mendapat masalah, hanya bisa berdoa, pasrah, nrimo, dan berkata
bahwa masalah mereka adalah bentuk cobaan dari Tuhan. Mereka
meyakini bahwa masalah yang mereka alami, karena merupakan cobaan
dari Tuhan, maka Tuhan-lah yang harus mengubah keadaan ini. Saya
tidak setuju dengan pandangan ini. Bukankah ada tertulis bahwa Allah
tidak akan membantu mengubah nasib umat-Nya apabila umat-Nya tidak
bersedia mengubah nasib mereka sendiri.

Langkah kedua adalah memahami bahwa masalah (simtom) yang ia alami pasti ada sumber atau akar masalah. Dan akar masalahnya bukan terletak di luar dirinya, misalnya ia tertipu karena kelihaian si penipu dalam meyakinkan dirinya sehingga mau meminjami uang, tapi akar masalahnya terletak di dalam dirinya.

Langkah ketiga, bila akar masalah yang ada di dalam dirinya berhasil ditemukan, maka ia dapat mengatasi masalahnya.

Langkah keempat adalah memilih solusi terbaik yang akan digunakan dalam mengatasi masalah. Setelah sukses melakukan empat langkah di atas maka ia dapat memetik hikmah dari apa yang ia alami.

Sekarang akan saya uraikan langkah demi langkah yang dilakukan kawan saya.

Langkah 1. Masalah: Saya tertipu ratusan juta berkali kali.

Langkah 2. Saya menyadari bahwa akar masalah terletak di dalam diri saya.

Langkah 3. Akar masalah saya adalah belief yang menyatakan bahwa saya adalah kasirnya Tuhan.

Langkah 4. Saya mengubah belief saya, dari kasirnya Tuhan menjadi Fund Manager uangnya Tuhan. Saya akan mengelola uang yang dipercayakan kepada saya dengan hati-hati karena saya harus
mempertanggungjawabkan uang ini setiap akhir tahun buku.

Hikmah yang didapat dari masalah ini adalah bahwa apa yang ia alami
dipengaruhi oleh belief-nya. Setiap belief mengakibatkan konsekuensi
tertentu. Cara paling tepat untuk mengevaluasi apakah suatu belief
bermanfaat atau justru merugikan diri kita bisa dilihat dari akibat
yang ditimbulkan oleh belief-belief itu terhadap hidup kita.

Selama seseorang masih tetap memegang belief yang sama maka ia akan
mendapat hasil yang sama. Tidak mungkin terjadi seseorang mendapat
hasil yang berbeda dengan belief yang sama. Einstein menjelaskan
dengan sangat tepat saat ia berkata, “Insanity is doing the same
thing over and over but expecting different result.”[awg]

Blog on...til next time!

Copyrighted Jeff Choong All right reserved
No parts of this quote can be reuse or reproduced without owner permission.

Lebih baik tahu sedikit hal yang baik dan perlu, daripada banyak hal yang tidak berguna dan bisa-biasa saja.

Semua orang mendapatkan ujian. Orang kaya diuji apakah ia mau mendermakan kekayaannya bagi orang yang membutuhkan; sementara orang miskin diuji apakah ia bersabar dengan keserbakekurangannya, dan tetap dalam kepatuhan.


Kita lebih menderita karena memikirkan apa yang mungkin bakal terjadi daripada apa yang benar-benar telah terjadi.

Jika kamu tidak dapat mengendalikan kemarahanmu, sebelum kamu berbuat atau berkata sesuatu, maka berhitunglah sampai sepuluh. Jika amarahmu belum reda, maka berhitunglah sampai seratus. Jika kamu juga masih tetap marah, berhitunglah sampai seribu.

Janganlah kamu mencari teman yang tiada cacat-cela, sebab kamu akan terpencil seorang diri.

Orang bodoh senantiasa curiga pada siapa pun, kecuali pada dirinya sendiri.



Subscribe Now: google