
satu hari CINTA & KAWAN berjalan dalam kampung... Tiba-tiba CINTA terjatuh dalam telaga.... Kenapa??
Kerana CINTA itu buta.. Lalu KAWAN pun ikut terjun dalam telaga... Kenapa??
Kerana... KAWAN akan buat apa sahaja demi CINTA !! Di dalam telaga CINTA hilang.... Kenapa??
Kerana... CINTA itu halus, mudah hilang kalau tak dijaga, sukar dicari apatah lagi dalam telaga yang gelap....Sedangkan KAWAN masih lagi tercari-cari dimana CINTA & terus menunggu.. Kenapa??
Kerana... KAWAN itu sejati & akan kekal sebagai KAWAN yang setia.... kan ?? so, hargai lah KAWAN kita selagi kita terasa dia BERERTI....
Blog on...til next time!
Copyrighted Jeff Choong All right reserved
No parts of this quote can be reuse or reproduced without owner permission.

Never give up when everything fall into pieces. Never even lose hope when everybody turned their back on you.
Life isn't bout being fair, it's about surpassing the unfair reality.
In order for someone to love you, you must let yourself love you
Value your life and only you can pay the price.
The past is the past so just let it go, the future is the future so all you can do is wonder, & now is the present so live for it!
Everyone has dreams, some of us stay awake and turn them into reality.
I want to always be the reason of your happiness, not just a part of it, and I want to be a part of your sadness, i don't want to be the reason of it.
Blog on...til next time!
Copyrighted Jeff Choong All right reserved
No parts of this quote can be reuse or reproduced without owner permission.
田心洁之名言-放手的故事
Source :- October 7th, 2007 by jsjs418放手真是这么困难吗?
不晓得大家有否听过‘放手的故事’
据说,有一个人很不小心的,踏空掉下了一个深不 见底的山崖。很幸运的,他在混乱中抓住了一些山崖边的攀藤,就这样暂时保住了性命。他好不容易才喘过气来,冷静的,看看四周,一心要脱离着困境。但是在双 脚不仅踏不到地面,而且还要吊在半空的环境下,希望也非常的渺茫啊。但他还是继续想尽办法的努力往上爬,认为有恒心,什么事也可以解决的。渐渐的,他把自 己的手,脚,脸,都给擦伤了,但他还是无法爬上平原。渐渐的,他觉得自己无能为力了,他坚决地希望渐渐的变成渺茫了,他已经耗资了所有的体力,他,终于都 支持不住了。他决定了,选择放手。他把手松了,摊开手,闭上眼,泪,也流了—-他一心认为自己这样的决定必死无疑,但是,当他睁开眼睛的时候,他却被一棵 大树给撑住了,这时候他才后知后觉的,原来,他死守地抓着那攀藤那么辛苦,那么吃力往上爬,还弄得满身伤痕,一切都是白费的。。。
这故事到底意味着什么呢?试问大家有何想法与见解呢?田心洁之言,其实啊,这故事意味着我们无论在哪方面都不应该太过于执着。过于固执会让人变得无能为力;所以有时在适当的时候选择放手,也许一切都来得简单而容易—
Direct Translation:
Let go really so difficult?
I do not know whether you heard of 'let go of the story'
It is said that there is a very careful person, Ta fell a bottomless cliff. Luckily, he was caught in the confusion of some cliff climbing, and thus temporarily saved their lives. He managed to breath, calm, look around, bent out of the predicament. However, not only in the feet can not tread the ground, but also hanging in the air environment, we hope very bleak ah. Still, he tried every means to efforts to climb, that can have patience, nothing can be solved. Gradually, he put his hands, feet, face, gave bruised, but he still can not climb the plains. Gradually, he felt powerless, and he strongly hopes that gradually become slim, he has spent all the strength, he finally is unable to cope. He decided, let me go. He put his hand loose, spread hands, close your eyes, tears, and shed - his heart that such a decision his certain death, but when he opened his eyes, he has been a big tree to the shore , and this time he was hindsight, turned out that he hang on to grip it climbing so hard, so difficult climb, but also confused covered with wounds, all in vain. . .
The story in the end mean? What thoughts and ideas how can we do? Tian Xinjie words, in fact, ah, this story no matter what aspect means that we should not be too persistent. People are too stubborn will become powerless; so sometimes choose to let go at the right time, and perhaps more simple and easy to all -
Blog on...til next time!
Copyrighted Jeff Choong All right reserved
No parts of this quote can be reuse or reproduced without owner permission.
Things You'll Need:
- Time and patience
- A willingness to hear others' opinions
- The ability to bite your tongue
- Step 1
Let go of the need to be "right." In American culture, we seem to have developed an obsession for being right, knowing the truth, and having the most up-to-date and accurate information. Realize that no one, not even you, can have all the answers; everyone's "truth" is going to be only part of the truth. So what if someone else's theory is partially true? That shouldn't cause you to doubt your own belief system unless you would like to. The more you can have a "to each his own" attitude, the more relaxed you will feel while discussing different ideas.
- Step 2
Realize that people's beliefs are shaped by genes, personality, disposition, life experiences, and historical context. Its possible that if you were born in a different time and place, or experienced different things in life, you would have a totally different belief system.
- Step 3
Practice the art of listening carefully. You may need to bite your tongue if you feel the need to lash out with your opinions. Even if you disagree with someone's view, you can reflect back what they're saying to make them feel heard. "So you're saying that..." If something about their opinion or belief system really bothers you, you can respectfully phrase a question to address it, like, "I see where you're coming from, but I don't understand about..."
- Step 4
Do some research. If you often find yourself saying, "Why would someone DO that?" or "I can't imagine doing that" or "People are so ignorant!" you may need look into other peoples' lives and way of thinking. As we all know by now, the internet is an excellent source of information. Having at least a base knowledge of different subjects will not only give you a chance to expand your perspective, it will give you more credibility when speaking to others. An atheist speaking to a Christian who has a thorough knowledge of the Bible is likely to be taken much more serious.
- Step 5
Pick your battles carefully. Sometimes you will never understand someone else's point of view and they won't get yours. Taking a stand for your beliefs does not require you to argue with every person every time you talk about it
Blog on...til next time!
Copyrighted Jeff Choong All right reserved
No parts of this quote can be reuse or reproduced without owner permission.
Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.
Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka
memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka
hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil
diselamatkan oleh sahabatnya.
Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis
di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU.
Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “Kenapa
setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan
sekarang kamu menulis di batu?” Temannya sambil tersenyum
menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya
di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan
tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasaterjadi, kita harus
memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup
angin.”
Cerita di atas, bagaimanapun tentu saja lebih mudah dibaca dibanding
diterapkan. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah pertemanan ‘hanya’
karena sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut
kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sebuah sakit hati lebih
perkasa untuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan untuk menjaga.
Mungkin ini memang bagian dari sifat buruk diri kita.
Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus saya
lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati
yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti
hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu. Bukankah sudah
menjadi kewajaran sifat orang untuk membalas dendam? Maka sungguh
sangat bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia
menginginkan sakit yang sama seperti yang dia rasakan. Bisa jadi juga
sakit hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam
menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita
tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai
gurauan.
Blog on...til next time!
Copyrighted Jeff Choong All right reserved
No parts of this quote can be reuse or reproduced without owner permission.
Entah karena menganggap saya sebagai orang yang kurang sabar, kurang optimis, atau kurang gigih, seorang kawan mengirimkan surat elektronik berisi cerita inspiratif yang tak jelas asal usulnya. Nama penulisnya pun tak tercantum. Dan karena tidak bersifat rahasia, tidak membahayakan orang, dan tidak mengandung fitnah, maka saya kutip dibawah ini.
Dalam sebuah kisah Tiongkok dikisahkan, ada seorang pemuda yang hendak belajar kungfu. Datanglah dia pada sebuah perguruan kungfu. Dia menghadap gurunya dan berkata, “Guru, ajarilah saya kungfu!” Sang guru menerima dia menjadi murid, namun keesokan harinya sang guru menugaskan dia menjadi seorang juru masak perguruan. Sambil menyerahkan sebuah cerobong kecil yang terbuat dari besi kasar beliau berkata, “Tugasmu menjadi juru masak dan setiap engkau meniup api dengan cerobong besi ini, tekan dan remas dengan kuat cerobong ini. Aku akan mengajarkan kungfu jika cerobong ini sudah halus dan bayanganku terlihat jelas.” Bertahun-tahun berlalu. Sang murid mulai tak sabar terus-terusan menjadi juru masak. Setiap tahun dia menanyakan kapan dia belajar kungfu, namun sang guru tetap mengatakan sampai cerobong besi itu halus. Sampai akhirnya dia menunjukkan cerobong besi yang sudah halus itu pada gurunya. Sang guru tersenyum dan berkata, “Sekaranglah saatnya. Aku akan mengajarkan kepadamu ilmu yang penting, tetapi carikan dulu aku bambu yang paling keras di hutan.” Maka berangkatlah sang murid ke hutan. Ia meremas setiap bambu yang ditemuinya di hutan itu. Herannya tak satu pun dari bambu-bambu itu yang didapatkannya cukup keras. Sampai sore hari pun dia tak menemukan bambu yang keras di hutan itu. Akhirnya sang murid itu pulang dengan tangan hampa. Dengan kelelahan dia berkata pada gurunya, “Guru, maafkan saya. Saya sudah mencari kemana-mana, tetapi ternyata tidak ada bambu yang keras di hutan. Besok saya akan pergi ke hutan lain untuk mencarinya.” Sang guru tersenyum sambil berkata, “Muridku, saat ini engkau telah menguasai dua hal. Yang pertama kesabaran dan yang kedua adalah jurus tangan peremuk tulang. Siapa pun lawanmu, engkau bisa meremukkan tulangnya dalam sekejap. Jadi, saat ini engkau sudah menjadi salah satu pesilat tangguh dan sukar dikalahkan. Namun, bukan cuma itu. Engkau juga telah melatih kesabaranmu yang akan membantumu untuk bisa mempelajari ribuan jurus-jurus lainnya.”
Pertanyaan dari kisah di atas, apakah benar dengan kesabaran kita bisa mencapai tujuan kita? Mari kita samakan persepsi kata sabar terlebih dahulu. Kesabaran dalam terminologi masyarakat kita banyak disalahartikan. Masyarakat kita banyak mengartikan sabar sebagai diam, tidak membalas, menerima ataupun pasrah. Pengertian ini sangat berlainan dengan arti dalam bahasa Arab. Sabar dalam bahasa Arab diartikan tetap berusaha, tetap berjuang dan tetap berharap. Sabar adalah kombinasi yang harmonis antara rasa syukur, optimisme dan gigih (persistensi). Rasa syukur dapat mengkonversi kondisi terburuk menjadi mempunyai hikmah dan kebaikan.
Optimisme adalah kemampuan kita menciptakan harapan. Dan persistensi adalah kesadaran diri untuk tetap bergerak, berusaha dan berjuang. Itulah makna sesungguhnya dari kata “sabar”. Saya berterima kasih kepada kawan yang mengirimkan cerita di atas dengan cara menuliskan artikel ini untuk dinikmati banyak orang. Sebab cerita sederhana di atas memang mengandung sejumlah pelajaran yang menarik bagi siapa saja yang bersedia belajar. Di tengah masyarakat yang sedang dihalau oleh ajaran-ajaran cepat lulus, cepat kerja, cepat naik jabatan, cepat untung, cepat kaya, cepat langsing, dan serba cepat lainnya, kata “sabar” seolah-olah menjadi kadaluarsa. Orang yang terkesan sabar menjadi aneh dan kurang gaul alias ketinggalan jaman.
Memang, kita hidup pada jaman yang bergegas. Informasi, data, dan berita disebar dengan kecepatan yang tak terbayangkan oleh orangtua kita dulu. Pesan pendek alias SMS bertaburan di angkasa untuk kemudian menyusup ke dalam puluhan juta telepon seluler dalam hitungan detik (di Indonesia jumlah ponsel yang aktif tak kurang dari 60-an juta, dan tiap hari lebih dari 80 juta pesan pendek hilir mudik menembus batas-batas geografis yang dulu menjadi kendala). Belum lagi sebaran informasi, data, dan berita yang dikirim lewat jaringan surat-surat elektronik. Semua perangkat teknologi komunikasi dan informasi itu mendukung laju pertumbuhan budaya instan, serba cepat dan bergegas. Sehingga orang-orang yang masih bersedia untuk “sabar” nampak seperti kawan-kawan dinosaurus.
Masalahnya, dalam satu soal yang amat penting kita ternyata tetap harus bersabar. Dalam soal yang vital ini teknologi tak mampu berbuat banyak. Dan “soal” yang yang penting tersebut adalah soal membentuk watak alias karakter manusia. Berada di wilayah kebudayaan, watak dan karakter—entah itu yang personal maupun komunal—acapkali kita temukan bersitegang dengan teknologi. Sebagaimana setiap kemajuan tarik menarik dengan apa yang disebut tradisi, demikianlah teknologi yang tak sabaran itu bertikai dengan proses pembangunan karakter yang mempersyaratkan kesabaran sebagai salah satu komponen wajibnya. Membentuk watak tak bisa secara instan. Membangun karakter tak mungkin dilakukan dalam sekejap mata. Sebab karakter itu merupakan kumpulan dari habitus, semacam insting perilaku yang sudah mendarah daging dan karenanya kenyal tak gampang patah. Apa yang perlahan dibentuk oleh guru kungfu dalam diri pemuda yang mau belajar kepadanya adalah mendahulukan yang utama (first thing first). Yang utama itu adalah watak, karakter, yaitu menjadi orang yang tekun bekerja, gigih berjuang, sabar menanti saatnya. Di atas watak yang demikian ini bisa dibangun kompetensi, keahlian, keterampilan sebagai pendekar peremuk tulang. Keduanya, baik watak maupun kompetensi yang menyertainya, berjalan selaras.
Ketekunan bekerja dan kesabaran berproses menjadi jalan menuju lahirnya kompetensi sebagai pendekar peremuk tulang. Sungguh luar biasa! Tiba-tiba saya menemukan nasihat kawan saya itu. Ia mungkin mengirimkan cerita tersebut agar saya mau belajar untuk menjadi orang yang “cepat sabar”, dan bukan orang yang cepat marah. Apakah benar demikian?
Blog on...til next time!
Copyrighted Jeff Choong All right reserved
No parts of this quote can be reuse or reproduced without owner permission.
“Seorang sahabat adalah seseorang yang mendekat ketika kawan lain menjauh.”
– Walter Winchell, kolumnis Amerika Serikat, 1897–1972
KISAH nyata ini terjadi di tahun 2005. Meidi dan Ina adalah sahabat kental. Mereka berdua dibesarkan di sebuah desa di Jawa Tengah. Ketika memasuki jenjang perguruan tinggi selepas SMA, mereka memilih untuk melanjutkan kuliahnya di Jakarta. Meidi dan Ina, seperti perangko dalam amplop. Mereka ada di hampir saat yang bersamaan. Sesekali mereka bertengkar, tapi lebih sering mereka bersatu, menggalang persahabatan di kala sedih dan suka.
Persahabatan mereka pun kemudian teruji. Saat menjelang ujian akhir
di kampus, untuk sebuah mata kuliah, Ina dihadapkan sebuah pilihan
sulit. Orang tuanya, yang petani mengalami gagal panen karena
bencana banjir. Pun demikian dengan Meidi sebenarnya, yang
orangtuanya hanyalah pengusaha kelas menengah industri kerajinan
tangan di desa di Jawa Tengah. Industri kerajinan terkena imbasnya
pula ketika harga BBM merangkak naik.
Nah, Ina kehabisan uang. Sedangkan untuk mengikuti ujian, dia
membutuhkan uang untuk melunasi cicilan uang semester yang tertunda.
Lirik sana, lirik sini, tak ada yang dapat membantu. Meidi agak
sedikit tenang. Walau kiriman dari orang tuanya juga tak kunjung
tiba, namun dia memiliki sedikit tabungan. Hingga suatu ketika, Ina
benar-benar kelimpungan, batas waktu pembayaran uang kuliah sudah
mepet, dia belum juga mendapatkan kiriman dari orang tuanya.
Pinjaman dari teman, tak juga bisa diharapkan. Alhasil? Dia hanya
termangu di depan jendela kosnya.
Tanpa diketahuinya, Meidi melengos pergi. Empat jam berlalu, dia
pulang dengan membawa segumpal harapan buat Ina. “Kayaknya
kekuranganmu bisa terpenuhi. Kamu bisa ikut ujian sama-sama.”
katanya. Eh, dari mana Meidi bisa mendapatkan uang itu? Tak ada
jawaban yang pasti. Kecuali Ina tak melihat laptop milik Meidi yang
biasa teronggok di sudut kamar kosnya.
“Sudahlah, pakai dulu uang itu,” ujar Meidi. Ina hampir saja
menitikkan air matanya. Tanpa perlu ada penjelasan lagi, dan ia tahu
persis Meidi telah menggadaikan laptopnya. Singkat cerita, Ina dan
Meidi lulus dari perguruan tinggi itu. Kini mereka pun tetap
bersahabat. Hubungan Ina dan Meidi, meski dibatasi hirarki
pekerjaan, mereka tetap merupakan sahabat yang kental.
Sebuah cerita persahabatan yang manis tentu saja. Cerita itu sering
terjadi tanpa kita sadari. Seorang teman, dengan sifat pengasih yang
luar biasa, merelakan sesuatu yang berharga untuk menolong kawannya,
tanpa sedikit pamrih apa pun, kecuali untuk menolong sahabatnya
lepas dari kesulitan. Persahabatan itu ternyata di luar segalanya.
Teman memang bisa berarti lebih dari segalanya. Tanpa terucap, kita
paham, itulah artinya seorang teman.
Ini contoh yang lebih dramatis. Artis Roy Harold Scherer, Jr atau
lebih dikenal sebagai Rock Hudson diketahui mengidap penyakit AIDS.
Oktober 1985, Hudson menghembuskan nafas terakhirnya.. Kawan dekat
Hudson, Elizabeth Taylor bersama aktor dan artis lainnya, antara
lain Stevie Wonder, Elton John, Dionne Warwick dan lainnya
mempelopori gerakan penggalangan dana untuk penelitian terhadap
penyakit tersebut. Para penyanyi ini kemudian mempopulerkan lagu
lama yang juga pernah dinyanyikan Rod Stewart, yang dikemas secara
baru. Lagu itu sangat sederhana, tetapi maknanya sangat
dalam, “that’s what friends are for”. Itulah gunanya sahabat.
Nah, dalam pergaulan sehari-hari, Anda tentu mempunyai banyak
sahabat atau teman. Rasanya Anda bisa lebih sering bergaul dengan
mereka ketimbang dengan saudara atau bahkan ayah dan ibu. Alhasil,
ketika suatu saat Anda pindah rumah, rasa kehilangan begitu
membekas. Ingat film Petualangan Sherina ketika dia harus berpisah
dengan teman-temannya karena sang ayah pindah kerja ke daerah
Pangalengan, Jawa Barat? Sebuah keniscayaan, pada suatu masa Anda
pasti mengalami hal yang sama.
Hal yang sama pun terjadi ketika Anda memulai karir baru, masuk
sekolah atau kuliah baru, Anda tentu akan mendapatkan teman baru.
Anda tentu saja dengan berat hati meninggalkan teman-teman lama Anda
yang sudah Anda kenal, bahkan bertahun-tahun lamanya. Teman adalah
segalanya.
Namun, dengan makin bertambahnya usia Anda, urusan pun makin
bertumpuk. Masalah keluarga, masalah pribadi, dan masalah lainnya
kerap kali menjauhkan Anda dengan teman-teman yang dulu begitu
rekat. Anda pun seolah lupa dengan semua persahabatan yang manis.
Bagaimanakah hal itu bisa dihindari? Tentu saja, hal pertama yang
harus dilakukan adalah berusahalah untuk tetap menjaga komunikasi
dan bertemulah secara rutin. Bisa sekali dalam seminggu. Sekali
dalam sebulan, dua bulan, atau bahkan setahun. Dengan demikian,
hubungan yang Anda bina akan terus berkembang dan memperkaya hidup
Anda.
Dengan komunikasi yang dilakukan secara berkala, persahabatan akan
terus terpupuk. Arti persahabatan ditunjukkan manakala kita berada
dalam keadaan sulit. Seorang yang akan datang kepada Anda, dikala
Anda mendapat kesulitan. Sebuah kutipan yang diyakini kebenarannya,
A friend is one who walks in when others walk out. Seorang sahabat
adalah seseorang yang mendekat ketika kawan lain menjauh.
Nah, sudahkah Anda menghubungi kembali teman-teman lama Anda? Bila
belum, mulailah segera untuk merekatkan kembali tali silaturahmi.
Siapa tahu, saat ini, dia, teman Anda yang begitu akrab di masa
lalu, tengah membutuhkan kehadiran dan bantuan Anda. Sedikit kata
sapa, menjadi pengobat rindu. Dan, ah, siapa tahu, membesarkan hatinya yang tengah berduka.
Blog on...til next time!
Copyrighted Jeff Choong All right reserved
No parts of this quote can be reuse or reproduced without owner permission.






